Make your own free website on Tripod.com

Menjadi Orang Baik 

Tanggal 7 Mei 1931, perburuan penjahat paling sensasional di kota New York yang pernah dikenal akhirnya sampai pada klimaksnya. Setelah berminggu-minggu pencarian, Crowley si “Dua Senjata” - sang pembunuh dan perampok bersenjata – berada dalam posisi bertahan, terjebak dalam sebuah apartemen di West End Avenue. 

Seratus lima puluh polisi dan detektif mengepung tempat persembunyiannya. Mereka membuat lubang-lubang di atas atap, mereka berusaha memancing keluar Crowley dengan gas airmata. Kemudian mereka menyiapkan senapan mesin di gedung-gedung sekitarnya dan selama lebih dari satu jam area pemukiman New York dipenuhi suara letusan senjata. Crowley, merangkak di belakang kursi, membalas tembakan polisi tanpa henti. Sepuluh ribu orang tercekam menyaksikan pertempuran ini. Belum pernah kejadian seperti ini terjadi di pinggir jalan New York. Ketika tertangkap, Crowley di hukum mati di kursi listrik. 

Beberapa saat sebelum hal ini terjadi, Crowley baru saja mengadakan pesta kencan dengan pacarnya di pinggir kota Long Island. Tiba-tiba seorang polisi muncul menghampiri mobil dan meminta: “Coba saya lihat surat mengemudi Anda”. Tanpa berkata sepatah kata pun, Crowley menarik picu senjatanya dan menembak polisi itu hingga mandi darah. Tatkala polisi yang menjadi korban itu jatuh, Crowley melompat keluar mobil, merampas senjatanya dan menembakkan sebutir peluru lagi ke tubuh tak berdaya itu. Lanjut

 

.:muchad:

Setiap hari indra menangkap informasi, setiap detik ada input. Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat buat yang lain (Versi Rosulullah saw.). Agar input tidak sia-sia dan waktu tidak terbuang percuma, mengolah input menjadi output yang bermakna adalah tujuan muchad. Output-output ini hanya sekedar refleksi yang serupa dengan diary, dengan bersumber dari berbagai data yang telah terinput selama puluhan tahun, entah dari mana asalnya, dari mana sumbernya, semua menyatu begitu saja dengan input-input lainnya. Mungkin ada banyak output di sini yang sebelumnya telah terinput di otak dan hati Anda atau bahkan mungkin input yang muchad terima adalah output yang Anda ciptakan. Meski dengan penuh kesederhanaan, muchad berharap page ini bisa bermanfaat. Maaf dan terima kasih pada semua pihak yang telah dan akan menyumbangkan inputnya. muchad tunggu komentar Anda di muchadx@yahoo.com

.:Sebuah Refleksi:

Aku Juga Setan | Kewajaran Tidak Selamanya Kebenaran

Tanah Suci Di Hatiku | Hidup, Cinta, dan Tuhan

Cinta, Ketakutan, dan Harapan | Blank4 | Blank5 | Blank6 | Blank7

.: Lanjutan Menjadi Orang Baik

Dari kisah tersebut, kita akan menilai perbuatan Crowley dengan dua jawaban yaitu antara benar dan salah atau baik dan buruk. Jawaban tersebut pun memiliki tingkat yang berbeda-beda setiap orang. Hampir tiap orang memiliki kriteria sendiri-sendiri tentang yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk. Kriteria yang digunakan untuk menetapkannya pun sangat berbeda-beda. 

Menurut orang Jawa baik, belum tentu bagi orang Sunda juga baik begitu pula sebaliknya. Serupa dengan kisah Bapak, Anak dan Seekor Keledai, suatu ketika mereka bepergian jauh yang akan melewati beberapa kampung. Saat berangkat sang anak menunggangi keledai dan sang bapak menuntun keledainya. Ketika melewati kampung A, orang-orang mencela sang anak yang tidak berbakti kepada orangtuanya dengan tidak mempersilahkan bapaknya menunggang keledai. Akhirnya mereka pun bertukar posisi sehingga sang anak yang bertugas menuntun keledai dan sang bapak di atas punggung keledai. 

Melewati kampung B, orang-orang di daerah tersebut mencemooh sang bapak, mereka beranggapan sang bapak tidak memiliki rasa sayang kepada anaknya karena menyuruhnya menuntun si keledai sedang ia enak-enakan di atas punggung keledai. Ketika melewati kampung C, sang bapak dan anak bersama-sama duduk di atas keledai, namun tetap saja orang-orang di kampung itu mencela mereka. Orang-orang kampung menilai mereka tidak memiliki rasa belas kasih terhadap hewan, sudah kecil ditunggangi dua orang lagi. Akhirnya mereka bersama-sama menuntun si keledai, namun ketika melewati kampung D orang-orang setempat menyebut mereka sebagai bapak dan anak yang bodoh, tidak memanfaatkan keladainya dengan menungganginya. 

Seperti itu pula dalam kehidupan kita. ‘Baik’ adalah sesuatu yang relatif, tergantung dari pribadi yang melihatnya. Menjadi orang baik tidaklah mudah, menurut kita sudah baik eh ternyata ada juga yang menganggap sebaliknya. Begitu pula kita sebagai seorang muslim, kita tahu bahwa setiap yang diperintah atau pun dilarang Islam adalah baik bagi kita, tapi ada saja orang maupun golongan yang mencela dengan dalih ini dan itu. 

Dalam menunaikan ajaran Islam, godaan yang akan kita hadapai sangat banyak, tinggal bagaimana kita berjuang untuk tetap istiqomah dengan ajaran Islam. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaranyang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman) mereka. (QS. An-Nisaa’:66). [muchad04]

 Back

AKU JUGA SETAN

             Berjubah putih berjalan gontai di tengah padang pasir. Padang yang gersang, sepi dan sunyi. Semerbak angin melaju menyatu bersama debu menyiram muka Sang Kyai. Seorang alim berusia senja yang baru saja selesai berda’wah di desa sebelah. Keheningan di perjalanannya terusik oleh sebuah bayangan yang tampak pada bukit pasir di hadapannya. Perlahan mendekat, dekat dan dekat, bergaun putih berwajah bersih. Wanita, dia seorang wanita yang terlihat lesu tapi tak memudarkan ayunya. Cantik mempesona, Sang Kyai seolah bertemu bidadari yang siap melayani. Menoleh ke kanan, kiri, belakang dan kembali ke depan, Sang Kyai mulai menyukai situasi ini.

             Masih sepi dan sunyi, tiada siapa pun kecuali empat mata yang berpapasan di daratan gersang. Tanpa pikiran panjang, Sang Kyai merangkul dan merobohkan wanita itu dan…terjadilah semua yang diinginkan Sang Kyai. Puas, Sang Kyai bangkit ingin segera meninggalkan wanita itu namun kembali ditatapnya wajah ayu itu. Aneh, wanita itu tampak tenang, diam dan tak bergeming. Tiada lagi nafas dari hidungnya, tiada lagi detak di dadanya, dia tak lagi bernyawa. 

            Air menetes dari mata sayu Sang Kyai, badannya jatuh bersimpuh seolah terbangun dari mimpi. Sadar, satu kesalahan besar telah dilakukan. Ia dongakkan kepalanya,  buka mulutnya dan berteriak sekencang-kencangnya: “Ya Allah ampuni hamba, ini semua gara-gara setan-Mu yang terkutuk, yang telah memperdayaiku. Hukum dia dan ampuni hamba…!”. 

            Plak!!! Sebuah tamparan keras bersarang di pipi Sang Kyai hingga menghentikan munajat dan rintihannya. “Enak aja nyalah-nyalahin gue, dari tadi gue n teman-teman ngak ada di sini, yang nikmatin tuh elo sendiri, ngak ada hubungannya ma gue, dasar!”, bentak seekor setan (setan punya ekor y??!) yang kebetulan lewat.

             Mengaku tidak bersalah dan seringkali menyalahkan, seolah telah menjadi tabiat manusia. Jika ada orang lain yang bisa disalahkan meski orang itu tidak pernah tahu masalahnya, langsung saja jari telunjuk mengarah kepadanya. Kalau tidak ada siapa-siapa yang bisa disalahkan, spontan sasaran terakhir adalah “setan”. Kesalahan-kesalahan yang bersifat personal kadangkala manusia kaitkan dengan setan, yang memang bertabiat sebagai penyesat. Satu kesalahan, wah ini pasti ulah setan, dua kesalahan, pasti setan ngajak teman-temannya ngalahin niat suci gue, tiga, empat kesalahan dan seterusnya. Akhirnya, menyerah seolah tiada harapan untuk melawan.

            Benarkah setan yang membuat manusia melakukan kesalahan? Bukan hanya setan, manusia juga memiliki nafsu (nafsu amarah) yang bisa mengiring mulia menjadi hina. Meski setan dibelenggu di bulan suci ramadhan tetap saja manusia melakukan kesalahan. Selain itu apakah keuntungannya bila manusia menudingkan kesalahannya pada setan? Manusia seringkali malah lupa diri, bahwa dirinya pun memiliki potensi untuk salah.

             Mungkin tidak seekstrim cerita di atas, tapi manusia seringkali melimpahkan kesalahannya ke setan baik secara langsung ataupun sekedar menganjal di hati. Alangkah tawadhu’nya manusia ketika ia bersedia mengakui kesalahannya bukan hanya pada sesama manusia tapi juga kepada Tuhan penciptanya atau juga mengakui bahwa dia pun sewaktu ketika menjadi setan atau bahkan lebih hina.

             Memang kadang sulit untuk menyalahkan diri sendiri dan mungkin cukup berat untuk meninggalkan ungkapan-ungkapan yang bermakna mengalihkan kesalahan pada setan, ungkapan yang dengan mudah dan spontan terucap begitu saja. Untungnya, setan tidak bisa menampar manusia ketika manusia menyalahkannya[muchad05].

Back

Kewajaran Tidak Selamanya Kebenaran

Coming soon

Back

TANAH SUCI DI HATIKU

Coming soon

Back

HIDUP, CINTA, dan TUHAN

Coming soon

Back

CINTA, KETAKUTAN, dan HARAPAN

Coming soon

Back

Blank4

Back

Blank5

Back

Blank6

Back

Blank7

Back